info kesehatan
Kamis, 30 Januari 2014
Kamis, 21 Maret 2013
Penulis : Unoviana Kartika |
Kamis, 21 Maret 2013 | 17:01 WIB
KOMPAS.com -
Fenomena dampak buruk minuman manis terhadap kesehatan tampaknya kian
nyata. Sebuah studi terbaru mengindikasikan, minuman manis mungkin
bertanggung jawab atas sekitar 200.000 kematian setiap tahunnya di
seluruh dunia.Para peneliti menganalisa data dari penyakit global untuk menentukan hubungan kematian dengan konsumsi soda dan minuman manis lainnya. Mereka mengaitkan minuman tersebut dengan 133.000 kematian akibat diabetes, 44.000 kematian akibat penyakit jantung, dan 6.000 kematian akibat kanker. Sebanyak 78 persen dari kematian tersebut terjadi di negara berpendapatan rendah hingga sedang, dan sisanya di negara-negara kaya.
Meskipun belum dapat dibuktikan dalam hubungan sebab-akibat, minuman manis diketahui berkontribusi pada penambahan berat badan sehingga meningkatkan risiko penyakit degeneratif seperti diabetes, penyakit jantung, dan bahkan beberapa jenis kanker.
Negara-negara di Amerika Latin dan Karibia memiliki kematian akibat diabetes tertinggi yang berkaitkan dengan minuman manis. Rusia Timur dan Tengah memiliki jumlah kematian akibat penyakit jantung terbesar. Dan Meksiko yang merupakan negara dengan tingkat konsumsi minuman manis tertinggi di dunia memiliki tingkat kematian keseluruhan terbesar. Di Meksiko, ada 318 kematian per satu juta orang dewasa setiap tahunnya yang berkaitan dengan konsumsi minuman manis.
Jepang merupakan negara yang populasinya paling sedikit mengonsumsi minuman manis memiliki tingkat kematian terendah yaitu 10 kematian per satu juta orang dewasa.
"Karena kami memfokuskan pada penyakit kronis maka studi kami berfokus pada orang dewasa," ujar ketua peneliti Gitanjali Singh dari Harvard School of Public Health di Boston.
Temuan ini dihadirkan dalam pertemuan epidemiologi dan pencegahan/nutrisi, aktivitas fisik, dan metabolisme yang diselenggarakan American Heart Association.
Rabu, 20 Maret 2013
Kompas.com - Anda sedang berencana melakukan waxing alias pencukuran bagian organ genital? Sebaiknya baca laporan hasil studi terbaru ini. Organ genital yang bersih tanpa rambut ternyata justru lebih rentan infeksi campak.
Menghilangkan rambut kemaluan, baik itu dengan mencukur, menggunting, atau mencabut, bisa menyebabkan iritasi kulit sehingga lebih mudah terjadi penularan infeksi virus.
Seperti halnya pada peningkatan angka kejadian virus molluscum contagiosum yang termasuk dalam penyakit menular seksual.
"Menghilangkan rambut di area genital telah menjadi fenomena fesyen dalam satu dekade terakhir. Pada saat yang sama terjadi peningkatan kasus molluscum contagiosum," kata Dr.Francois Desruelles dari departemen dermatologi Arches Hospital, Nice, Perancis.
Memang kaitan antara kedua hal tersebut masih harus dikonfrimasi dengan studi lanjutan, tetapi Dersuelles yakin kepopuleran membersihkan rambut kemaluan, baik pada pria atau wanita, meningkatkan risiko infeksi.
Menghilangkan rambut kemaluan juga akan meningkatkan risiko kutil kelamin karena infeksi papillomavirus.
Desruelles dan timnya melaporkan hasil observasi mereka dalam jurnal Sexually Transmitted Infections.
Ruam molluscum contagiosum sebenarnya lebih sering dialami anak atau orang yang mengalami gangguan kekebalan tubuh. Namun penyakit tersebut juga ditularkan lewat hubungan seksual.
Untuk mengetahui kaitan antara infeksi tersebut dengan membersihkan rambut kemaluan, Desruelles meneliti 30 pasien di Perancis yang menjalani pengobatan kulit di klinik swasta di Nice antara tahun 2011 dan 2012.
Rata-rata pasien tersebut berusia sekitar 30 tahun dan 24 orang diantaranya pria. Hampir kebanyakan pasien memiliki gejala bentol-bentol kemerahan. Pada beberapa kasus, bentolnya menyebar sampai bagian perut, dan ada juga yang ke bagian pinggul.
Hampir seluruh pasien melakukan tindakan pembersihan rambut kemaluan. Mencukur adalah metode yang paling banyak dipilih (70 persen), sisanya waxing dan menggunting.
Sepertiga dari pasien menderita berbagai penyakit kulit, seperti infeksi kulit, scar, kutil, sampai rambut tidak tumbuh kembali.
Penularan virus campak dicurigai merupakan bentuk penularan sendiri, yang berarti pasien menggaruk kulit yang teriritasi. Mencukur dengan alat-alat yang tidak steril di salon juga bisa meningkatkan risiko infeksi.
"Menghilangkan rambut kemaluan dengan laser tidak terkait karena tidak ada pemotongan atau perdarahan mikroskopik. Selain itu waxing juga memiliki risiko lebih sedikit dibanding mencukur," katanya.
Kendati demikian, menurutnya menghilangkan rambut kemaluan juga punya efek positif. Antara lain mencegah timbulnya kutu.
Sumber :
HealthDay News
Manfaat Tidur Tanpa Busana
Info Kesehatan kali ini akan membahas manfaat tidur tanpa busana.
Berdasarkan hasil penelitian para ilmuan mengatakan bahwa tidur tanpa
mengenakan busana ternyata membuat kita sehat. Mereka menyebutkan bahwa
ada 6 alasan mengapa tidur tanpa busana itu menyehatkan.
Dapat Menyehatkan Daerah Kewanitaan
Tidur tanpa mengenakan pakaian justru akan membuat sehat daerah kewanitaan kita. Perlu diketahui bahwa daerah kewanitaan tersebut terdapat bakteri dan jenis ragi sehingga dalam kondisi yang hangat malah menyebabkan pertumbuhan bakteri secara berlebihan. Untuk mengatasi terjadinya infeksi tersebut adalah menjaga sirkulasi udara dengan cara tidur tanpa mengenakan busana.
Dapat Mencegah Perut Buncit
Tidur tanpa mengenakan busana akan membuat anda merasa nyaman dan nyenyak, sehingga tingkat hormon strees kortisol akan menurun ketika kita istirahat dan menekan rasa lapar serta energi tetap terjaga. Sebaliknya jika tidur menjadi terganggu maka hormon kortisol akan naik pada saat anda terbangun sehingga membuat anda jadi lapar dan mulai mencari makanan, akibatnya berat badan naik dan perut buncit.
Dapat Meningkatkan Percaya Diri
Rasa percaya diri kita akan meningkatkan disaat Anda tidur tanpa pakaian. Anda akan terlihat seksi dan merasakan sensasi dari kelembutan seprai dari tempat tidur Anda. Dengan tampilan seksi tersebutlah yang menambah percaya diri Anda.
Tidur Akan Lebih Baik
Suhu tubuh Anda akan menurun ketika mengenakan baju tidur dan selimut yang berat. Dengan tidur tanpa mengenakan pakaian akan membantu tubuh tetap dingin, karena dengan kondisi yang dingin sangat bagus untuk kesehatan tubuh kita.
Bagus Untuk Kulit dan Rambut
Tidur tanpa mengenakan pakaian juga membantu pelepasan melatonin dan hormon pertumbuhan anti penuaan kedalam tubuh Anda. Dan hormon tersebut sangat bermanfaat bagi kulit dan kesehatan rambut Anda.
Tingkatkan Kehidupan Seks
Dan yang terakhir, tidur tanpa mengenakan pakaian akan meningkatkan kualitas seks, karena sentuhan kulit ke kulit dapat meningkatkan senyawa kimia pemberi efek feel-good, seperti hormon yang muncul saat kita berpelukan yaitu oksitosin.
Dapat Menyehatkan Daerah Kewanitaan
Tidur tanpa mengenakan pakaian justru akan membuat sehat daerah kewanitaan kita. Perlu diketahui bahwa daerah kewanitaan tersebut terdapat bakteri dan jenis ragi sehingga dalam kondisi yang hangat malah menyebabkan pertumbuhan bakteri secara berlebihan. Untuk mengatasi terjadinya infeksi tersebut adalah menjaga sirkulasi udara dengan cara tidur tanpa mengenakan busana.
Dapat Mencegah Perut Buncit
Tidur tanpa mengenakan busana akan membuat anda merasa nyaman dan nyenyak, sehingga tingkat hormon strees kortisol akan menurun ketika kita istirahat dan menekan rasa lapar serta energi tetap terjaga. Sebaliknya jika tidur menjadi terganggu maka hormon kortisol akan naik pada saat anda terbangun sehingga membuat anda jadi lapar dan mulai mencari makanan, akibatnya berat badan naik dan perut buncit.
Dapat Meningkatkan Percaya Diri
Rasa percaya diri kita akan meningkatkan disaat Anda tidur tanpa pakaian. Anda akan terlihat seksi dan merasakan sensasi dari kelembutan seprai dari tempat tidur Anda. Dengan tampilan seksi tersebutlah yang menambah percaya diri Anda.
Tidur Akan Lebih Baik
Suhu tubuh Anda akan menurun ketika mengenakan baju tidur dan selimut yang berat. Dengan tidur tanpa mengenakan pakaian akan membantu tubuh tetap dingin, karena dengan kondisi yang dingin sangat bagus untuk kesehatan tubuh kita.
Bagus Untuk Kulit dan Rambut
Tidur tanpa mengenakan pakaian juga membantu pelepasan melatonin dan hormon pertumbuhan anti penuaan kedalam tubuh Anda. Dan hormon tersebut sangat bermanfaat bagi kulit dan kesehatan rambut Anda.
Tingkatkan Kehidupan Seks
Dan yang terakhir, tidur tanpa mengenakan pakaian akan meningkatkan kualitas seks, karena sentuhan kulit ke kulit dapat meningkatkan senyawa kimia pemberi efek feel-good, seperti hormon yang muncul saat kita berpelukan yaitu oksitosin.
Jumlah Penderita AIDS di Banjar Meningka
MARTAPURA, KOMPAS.com — Jumlah penderita penyakit AIDS di wilayah Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), dalam dua tahun terakhir ini meningkat.
Hal tersebut terungkap dalam rapat koordinasi, yang digelar Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kabupaten Banjar bersama instansi terkait di Aula STAI Darussalam, Martapura, Rabu.
Sekretaris KPAD Kabupaten Banjar Hamdi menyebutkan, terjadi peningkatan penderita AIDS cukup signifikan di wilayah tersebut yang asalnya satu orang saja di tahun 2011. "Penderita AIDS menjadi delapan orang di tahun 2012," kata Hamdi, Rabu (20/3/2013).
Rakor yang dibuka Wakil Bupati Banjar H Ahmad Fauzan Saleh ini bertujuan lebih mempererat kerja sama para pemangku kepentingan dalam mensosialisasikan kesadaran masyarakat terhadap penanggulangan penyakit AIDS.
Fauzan Saleh menyatakan kondisi ini merupakan fenomena gunung es. Sebab bila sosialisasi digencarkan, akan semakin banyak kondisi penderita AIDS yang akan diketahui. "Jangan pesimis," tambahnya.
Itu artinya kesadaran masyarakat terhadap penanggulangan AIDS semakin bertambah. Dengan begitu, diharapkan stigma yang selama ini tertanam dibenak masyarakat yaitu pengucilan penderita HIV/AIDS akan semakin berkurang.
Wakil Bupati Fauzan Saleh sangat berterima kasih terhadap kegiatan KPAD Banjar yang paling aktif mengadakan kegiatan seputar penanggulangan AIDS di Kalsel.
Kegiatannya melibatkan sekolah, perusahaan tambang dan perkebunan, instansi pemerintah, bahkan pemilik warung "remang-remang" pun diajak dialog terkait penanggulangan AIDS.
Sumber :
Editor :
Hasrudin, S.Pd
Langganan:
Komentar (Atom)





